Waspada Rabies! Penyakit dari Gigitan Anjing Ini Bisa Mematikan, Belasan Warga di Bali Jadi Korban
Kasus 15 warga digigit anjing diduga rabies di Buleleng, Bali, menjadi pengingat bahwa rabies masih merupakan penyakit berbahaya yang dapat menular ke manusia dan berujung kematian jika tidak segera ditangani.
Kasus gigitan anjing yang diduga terinfeksi rabies kembali terjadi di Indonesia. Di Kabupaten Buleleng, Bali, sedikitnya 15 warga dilaporkan digigit seekor anjing yang diduga membawa virus rabies. Dari jumlah tersebut, satu orang dilaporkan harus menjalani perawatan di rumah sakit akibat luka yang dialami.
Peristiwa ini kembali mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai rabies, penyakit infeksi virus yang menyerang sistem saraf pusat dan dapat menular dari hewan ke manusia. Penularan paling sering terjadi melalui gigitan hewan yang terinfeksi, terutama anjing. Virus rabies masuk ke tubuh melalui luka gigitan, kemudian menyebar melalui jaringan saraf hingga akhirnya mencapai otak.
Menurut pakar virologi dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, Wayan Tunas Artama, rabies termasuk penyakit yang sangat berbahaya karena hampir selalu berakibat fatal apabila gejala klinisnya sudah muncul.
âRabies adalah penyakit yang hampir selalu berujung kematian ketika gejala klinisnya sudah terlihat. Karena itu, pencegahan dan penanganan setelah gigitan menjadi sangat penting,â ujar Wayan Tunas Artama dalam berbagai edukasi kesehatan masyarakat mengenai rabies.
Rabies sendiri dikenal sebagai salah satu penyakit dengan tingkat kematian tertinggi. Organisasi kesehatan dunia mencatat puluhan ribu orang meninggal setiap tahun akibat rabies, terutama di negara-negara Asia dan Afrika yang masih memiliki populasi anjing liar cukup besar.
Setelah seseorang digigit hewan yang terinfeksi, virus rabies tidak langsung menimbulkan gejala. Masa inkubasi penyakit ini bisa berlangsung beberapa minggu hingga beberapa bulan, tergantung pada lokasi luka gigitan dan jumlah virus yang masuk ke dalam tubuh. Pada tahap awal, penderita biasanya mengalami gejala seperti demam, sakit kepala, serta rasa nyeri atau kesemutan di sekitar luka gigitan.
Seiring perkembangan penyakit, virus rabies akan menyerang sistem saraf dan otak. Kondisi ini dapat memicu gangguan saraf yang serius seperti kegelisahan, perubahan perilaku, kesulitan menelan, hingga munculnya hidrofobia atau rasa takut terhadap air yang menjadi salah satu ciri khas rabies. Pada tahap lanjut, penderita dapat mengalami kejang, kelumpuhan, hingga kematian.
Karena itu, para ahli kesehatan menekankan bahwa tindakan cepat setelah gigitan hewan sangat penting untuk mencegah infeksi rabies berkembang. Luka gigitan sebaiknya segera dicuci menggunakan sabun dan air mengalir selama beberapa menit untuk mengurangi jumlah virus yang masuk ke tubuh. Setelah itu, korban harus segera mendapatkan penanganan medis, termasuk pemberian vaksin anti-rabies jika diperlukan.
Selain penanganan pada manusia, pengendalian rabies juga sangat bergantung pada pencegahan di tingkat hewan. Vaksinasi pada anjing peliharaan serta pengendalian populasi anjing liar menjadi langkah penting untuk memutus rantai penularan penyakit ini.
Kasus gigitan anjing di Buleleng menunjukkan bahwa rabies masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Dengan kewaspadaan, vaksinasi hewan, serta penanganan medis yang cepat setelah gigitan, risiko penularan rabies sebenarnya dapat dicegah sebelum berkembang menjadi penyakit yang mematikan.





